7 Simbol Kursi, Singgasana, dan Tempat Duduk Suci di Nusantara

  • Penulis 7semua
  • 28 Desember 2025
  • 16 menit

7semua - Kalau dengar kata “kursi”,
yang kebayang biasanya cuma: tempat duduk biasa,
buat rebahan sebentar atau istirahat habis kerja.

Tapi di banyak tradisi Nusantara,
tempat duduk bukan sekadar perabot.
Ada kursi yang tidak boleh diduduki sembarang orang,
ada bale-bale tertentu yang jadi pusat musyawarah,
ada singgasana yang hanya boleh disentuh setelah ritual,
bahkan ada batu yang dianggap “kursi” roh atau leluhur.

Tempat duduk di sini jadi simbol posisi, wibawa, dan kehadiran yang tak terlihat.
Mari kita kupas 7 simbol kursi, singgasana, dan tempat duduk suci di Nusantara,
dan lihat bagaimana sesuatu yang tampak sederhana
ternyata menyimpan lapisan makna yang cukup dalam.

1. Singgasana Raja: Kursi sebagai Simbol Tanggung Jawab, Bukan Hanya Kekuasaan

Dalam kerajaan-kerajaan Nusantara,
singgasana bukan sekadar kursi paling mewah di ruangan.

Ia melambangkan:

  • tempat berkumpulnya wibawa,

  • titik di mana keputusan diucapkan,

  • beban yang tidak bisa ditanggung orang biasa.

Karena itu,
tidak semua orang boleh duduk di situ —
bahkan kadang, raja pun tidak setiap saat duduk di singgasananya.

Secara simbolik, singgasana mengingatkan:

“Kamu bukan cuma duduk enak di atas,
tapi juga duduk di tengah beban dan doa banyak orang.”

Dalam hidup modern,
“kursi jabatan” masih membawa bayangan ini:
begitu kamu duduk di posisi tertentu,
tanggung jawabmu ikut naik.

2. Kursi Tetua Adat: Tempat Duduk sebagai Pusat Suara Bijak

Di banyak kampung,
ada bangku, bale, atau kursi tertentu
yang secara tidak tertulis dikenal sebagai tempat duduk tetua adat.

Saat musyawarah,
seseorang yang punya pengalaman panjang biasanya duduk di situ,
menghadapi lingkaran orang yang lebih muda.

Kursi itu melambangkan:

  • kedalaman pengalaman,

  • ruang bagi suara yang lebih pelan tapi mengakar,

  • dan tempat bertemunya memori masa lalu dengan rencana masa depan.

Bukan kursinya yang sakral,
tapi laku hidup orang yang duduk di situ
yang membuat tempat itu terasa berbeda.

3. Lincak dan Bale sebagai Ruang Tengah untuk Rembug dan Cerita

Lincak (bangku kayu panjang) atau bale-bale
sering menjadi “singgasana bersama”:
semua orang boleh duduk,
dari tamu, tetangga, sampai anak-anak.

Di sini:

  • tamu disambut,

  • cerita rakyat dilisankan,

  • keputusan keluarga dibicarakan,

  • dan kadang, gosip ringan berputar.

Secara simbolik,
tempat duduk ini adalah:

panggung kecil di mana kehidupan sehari-hari dipentaskan,
tanpa perlu lampu sorot.

Yang membuatnya bernilai adalah
kedekatan:
jarak fisik yang pendek
membuka pintu untuk percakapan yang lebih jujur.

4. Batu Besar sebagai “Kursi” Makhluk Halus atau Leluhur

Di beberapa daerah,
batu besar yang agak datar atau tampak seperti tempat duduk
sering dianggap sebagai kursi makhluk tak kasat mata:
penunggu hutan, leluhur, atau roh penjaga.

Orang yang lewat akan:

  • menjaga sikap,

  • tidak duduk sembarangan,

  • atau jika terpaksa duduk,
    mereka akan meminta izin pelan dalam hati.

Batu ini menjadi simbol bahwa:

dunia ini tidak hanya diisi manusia.
Ada “tamu lain” yang juga punya tempat mereka sendiri.

Tempat duduk di sini bukan milik raja atau pejabat,
tapi milik mereka yang tak terlihat—
dan justru karena itu, dihormati.

5. Tempat Duduk Khusus dalam Upacara: Siapa Duduk di Mana, Bukan Kebetulan

Dalam banyak upacara adat,
penempatan tempat duduk sangat diperhatikan:

  • siapa di depan,

  • siapa di samping,

  • siapa di belakang,

  • siapa yang duduk agak jauh.

Ini bukan diskriminasi semata,
tapi cara visual untuk:

  • menunjukkan peran,

  • menjaga alur proses ritual,

  • dan menandai aliran “energi” dalam ruangan.

Orang yang duduk di posisi tertentu
biasanya punya fungsi:

  • pemimpin doa,

  • penjaga sesaji,

  • penerima tamu,

  • atau perwakilan garis keluarga tertentu.

Dalam kacamata simbolik:

tempat dudukmu menunjukkan peranmu,
tapi tidak menambah atau mengurangi nilaimu sebagai manusia.
Yang penting adalah apakah kamu menjalankan peran itu dengan baik.

6. Kursi Kosong: Simbol Kehadiran yang Tidak Lagi Ada

Kadang, justru kursi yang kosong
yang terasa paling “penuh”.

Di rumah,
ada kursi yang selalu dipakai oleh:
ayah, ibu, kakek, atau seseorang yang kini sudah tiada.

Saat mereka tidak ada lagi,
kursi itu sering:

  • dibiarkan tetap di tempatnya,

  • sulit dipakai orang lain,

  • atau setiap kali dilihat, langsung memanggil kenangan.

Secara mistis,
kursi kosong ini seolah menjadi:

portal kecil kenangan,
tempat di mana kehadiran yang tak lagi fisik
masih terasa duduk diam bersama kita.

Bagi sebagian orang,
duduk di kursi itu merasa seperti “meminjam sebentar” keberanian atau kelembutan orang yang dulu menempatinya.

7. Kursi sebagai Simbol “Bagaimana Kita Memperlakukan Orang Lain”

Ada hal sederhana tapi penuh makna:
cara kita menawarkan kursi pada orang lain.

Di banyak budaya lokal,

  • mempersilakan orang yang lebih tua duduk dulu,

  • memberikan kursi terbaik pada tamu,

  • berdiri supaya orang lain bisa duduk,

adalah bentuk laku halus:
spiritualitas sehari-hari yang tidak perlu istilah rumit.

Tempat duduk di sini adalah simbol:

“aku melihatmu,
aku menghormatimu,
dan aku rela sedikit tidak nyaman
agar kamu bisa istirahat sebentar.”

Ini magi sosial paling sederhana:
mengubah kursi biasa jadi pernyataan penghormatan.

Penutup

Kursi, singgasana, dan tempat duduk suci di Nusantara
mengingatkan bahwa:
kadang yang membuat sesuatu sakral
bukan bentuknya,
tapi siapa yang duduk di sana,
bagaimana ia hidup,
dan bagaimana kita menghormati ruang itu.

Dari singgasana raja sampai batu besar di sudut hutan,
semua berbicara tentang satu hal:
posisi datang dengan tanggung jawab,
dan tempat duduk selalu bisa menjadi cermin
bagaimana kita memandang diri sendiri dan orang lain.

👉 Kalau kamu memikirkan satu tempat duduk dalam hidupmu sekarang—
entah kursi kerja, kursi makan, atau kursi yang pernah ditempati seseorang yang penting—
tempat duduk mana yang menurutmu paling “bercerita”?