7 Praktik Self-Healing Modern yang Mirip Tirakat Jawa

7 Praktik Self-Healing Modern yang Mirip Tirakat Jawa

  • Penulis 7semua
  • 7 Desember 2025
  • 14 menit

7semua - Belakangan, istilah self-healing ramai di mana-mana.

Orang bicara soal me time, boundaries, journaling, digital detox, dan sebagainya.
Di sisi lain, jauh sebelum istilah itu populer, leluhur Jawa sudah mengenal tirakat: laku batin untuk membersihkan hati, menata niat, dan menguatkan jiwa.

Kalau diperhatikan, banyak praktik self-healing modern sebenarnya sejiwa dengan tirakat Jawa, hanya beda istilah dan “kemasan”.

Mari kita bahas 7 praktik self-healing modern yang mirip tirakat Jawa, dan bagaimana kamu bisa menjalaninya dengan rasa yang lebih dalam.

1. Digital Detox ↔ Nglayu dari Keramaian

Self-healing versi modern:

  • mematikan ponsel,

  • off dari media sosial,

  • menjauh dari notifikasi.

Dalam tirakat Jawa, ada tradisi nglayu:

  • menepi dari keramaian,

  • pergi ke tempat yang lebih sepi,

  • mengurangi interaksi untuk sementara.

Esensinya sama:

memberi jeda pada diri, agar suara batin lebih terdengar daripada suara luar.

Kamu bisa menggabungkannya:

  • matikan ponsel 1–3 jam sehari,

  • duduk sendiri di kamar atau teras,

  • perhatikan napas dan pikiranmu tanpa distraksi.

2. Journaling ↔ Ngalap Srawung dengan Diri Sendiri

Self-healing: menulis jurnal untuk:

  • mengeluarkan isi kepala,

  • mengurai emosi,

  • merapikan pola pikir.

Dalam tirakat, banyak orang Jawa tua dulu:

  • menulis catatan kecil, doa, atau perenungan,

  • menyimpan di buku atau kertas,

  • seolah sedang “bercakap” dengan diri sendiri dan Gusti.

Menulis adalah bentuk ngobrol pelan dengan batinmu sendiri.
Kalimat yang jujur di kertas sering lebih kuat daripada seribu status media sosial.

3. Mindful Walking ↔ Laku Menyusuri Alam

Self-healing modern mengenal mindful walking:

  • berjalan pelan,

  • merasakan pijakan kaki,

  • memperhatikan suara dan angin.

Dalam tirakat Jawa, banyak laku dilakukan sambil:

  • berjalan sendirian di malam atau pagi buta,

  • menyusuri pematang sawah, jalan desa, atau halaman rumah,

  • sambil membaca doa atau dzikir dalam hati.

Keduanya mengajarkan:
berjalan bukan untuk sampai, tapi untuk hadir.

4. Puasa Konten / Info ↔ Puasa Laku (Nafsu dan Kebiasaan)

Self-healing modern kadang menyarankan:

  • mengurangi berita negatif,

  • berhenti mengikuti akun yang memicu cemas dan iri,

  • menjaga “diet informasi”.

Dalam tirakat, puasa bukan hanya soal makanan, tapi juga:

  • puasa bicara yang tak perlu,

  • puasa mengeluh,

  • puasa dari kebiasaan yang mengeraskan hati.

Intinya sama:
membersihkan “asupan” ke dalam jiwa,
karena yang masuk ke kepala dan hati, lambat laun, akan menjadi hidupmu.

5. Retreat & Healing Camp ↔ Mulih Mungsuh Diri

Retreat modern:

  • ikut healing camp,

  • workshop mindfulness,

  • menginap di tempat sepi untuk refleksi.

Dalam Jawa, ada konsep mulih mungsuh diri—pulang dan “berhadapan dengan diri sendiri”:

  • tinggal sementara di tempat sunyi,

  • banyak berdoa atau meditasi,

  • mengevaluasi apa yang sudah dilakukan.

Retreat modern bisa kamu niatkan sebagai tirakat:
bukan sekadar “liburan batin”, tapi momen jujur dengan diri sendiri.

6. Breathwork ↔ Ngelurus Napas dan Pikiran

Self-healing penuh dengan teknik:

  • deep breathing,

  • box breathing,

  • breathwork untuk menenangkan sistem saraf.

Dalam laku Jawa (dan banyak budaya lain), napas selalu sakral:

  • sebelum doa, tarik napas dan hadir dulu,

  • dalam meditasi, napas jadi jangkar pikiran,

  • dalam marah, diingatkan: “Tarik napas dulu.”

Napas adalah jembatan antara tubuh dan jiwa.
Tirakat mengajarkan:
meluruskan napas = meluruskan pikiran.

7. Self-Compassion Practice ↔ Ngasihani Diri Tanpa Manja

Self-healing modern menekankan self-compassion:

  • tidak menghakimi diri berlebihan,

  • memaafkan diri yang belum sempurna,

  • bersikap lembut pada luka sendiri.

Dalam petuah Jawa, kita sering mendengar:

  • “Ojo dumeh, tapi ojo ngasorke awak dewe.”
    (Jangan sombong, tapi jangan juga merendahkan diri sendiri.)

Tirakat bukan untuk menyiksa diri,
tapi menguatkan:

  • menerima salah tanpa menyembahnya,

  • memperbaiki diri tanpa membenci diri.

Penutup

Self-healing modern dan tirakat Jawa sejatinya jalan yang sama:
kembali pulang ke diri sendiri.
Yang satu lahir dari bahasa psikologi dan budaya global,
yang satu lahir dari kearifan lokal dan bahasa doa.

Kamu tak perlu memilih satu dan membenci yang lain.
Keduanya bisa saling melengkapi,
selama intinya sama:

kamu ingin hidup dengan hati yang lebih jernih dan lembut.

👉 Praktik mana yang paling “nyambung” denganmu: journaling, puasa digital, jalan sore pelan-pelan, atau justru ngobrol jujur dengan diri sendiri sebelum tidur?