7 Cara Masyarakat Tradisional Menghormati Leluhur di Akhir Tahun

7 Cara Masyarakat Tradisional Menghormati Leluhur di Akhir Tahun

  • Penulis 7semua
  • 13 Desember 2025
  • 13 menit

7semua - Di banyak kebudayaan Nusantara, leluhur tidak pernah benar-benar “pergi”.

Nama mereka disebut dalam doa,
kisah mereka diceritakan ulang,
dan keberadaan mereka dirasakan sebagai pelindung—sekaligus pengingat.

Menjelang penutup siklus—baik akhir tahun masehi, tahun adat, maupun musim panen—
masyarakat tradisional sering melakukan tindakan-tindakan sederhana tapi sakral
untuk menghormati leluhur:
bukan menyembah,
tapi berterima kasih dan menjaga hubungan.

Mari kita bahas 7 cara masyarakat tradisional menghormati leluhur di akhir tahun,
sekaligus melihat bagaimana kita bisa meneruskan semangatnya dalam hidup modern.

1. Ziarah Kubur dan Membersihkan Makam

Di banyak daerah Jawa, Sunda, Sumatra, dan lainnya,
akhir tahun sering diisi dengan:

  • mengunjungi makam orang tua dan leluhur,

  • membersihkan rumput liar,

  • merapikan batu nisan,

  • menabur bunga dan membaca doa.

Secara fisik, ini tampak seperti bersih-bersih biasa.
Tapi secara batin, ini adalah cara berkata:

“Kami belum lupa.
Hidup kami hari ini berdiri di atas doa dan kerja keras kalian dulu.”

Makam yang terawat adalah simbol bahwa garis ingatan belum putus.

2. Selamatan atau Tasyakuran Akhir Tahun

Di beberapa kampung,
ada tradisi membuat selamatan kecil menjelang tahun berganti:

  • memasak makanan sederhana,

  • mengundang tetangga atau keluarga dekat,

  • membaca doa bersama dan mengirimkan pahala doa untuk leluhur.

Ini bukan pesta besar,
melainkan momen hening di tengah ramai:

mengucap terima kasih atas tahun yang telah dilalui,
dan menitipkan langkah tahun depan kepada Yang Maha Mengatur—dengan memohon restu leluhur.

3. Menyalakan Dupa, Kemenyan, atau Api Kecil

Di banyak tradisi,
wewangian adalah bahasa halus untuk berkomunikasi dengan dunia tak kasat mata.

Menjelang pergantian tahun, sebagian orang:

  • menyalakan dupa atau kemenyan di sudut rumah,

  • menyalakan api kecil di halaman,

  • sambil menyebut nama orang-orang yang sudah mendahului.

Asap yang naik ke udara dianggap sebagai simbol:

doa dan rasa hormat yang ikut naik,
menghubungkan bumi dan langit,
manusia dan leluhur.

4. Menghadirkan Leluhur dalam Cerita

Tidak semua penghormatan harus dalam bentuk ritual fisik.
Di banyak keluarga, akhir tahun adalah waktu:

  • berkumpul,

  • bercerita,

  • mengulang kisah kakek-nenek, buyut, atau tokoh keluarga tertentu.

Ketika seseorang berkata:

“Dulu kakekmu begini…”
“Nenekmu dulu kalau akhir tahun pasti…”

sebenarnya ia sedang membuat sebuah upacara naratif:
leluhur dihadirkan kembali dalam ingatan,
dan nilai-nilai mereka diturunkan tanpa formalitas.

5. Menyajikan Makanan Simbolis

Di beberapa tradisi,
akhir tahun diwarnai dengan makanan tertentu yang dianggap membawa memori leluhur:

  • resep lama yang diajarkan nenek,

  • hidangan favorit kakek,

  • makanan yang dulu selalu ada di meja saat panen atau perayaan.

Makanan itu lalu:

  • diletakkan di meja,

  • dibacakan doa,

  • dan dinikmati bersama keluarga.

Ini adalah bentuk penghormatan yang sangat manusiawi:

“Mari makan bersama,
meski kali ini kalian hanya hadir di hati kami.”

6. Menepati atau Menghidupkan Kembali Janji Leluhur

Ada keluarga atau komunitas yang punya “pesan” dari leluhur:

  • jangan menjual tanah tertentu,

  • jangan melupakan ritual panen,

  • jangan memutus silaturahmi keluarga besar.

Menjelang akhir tahun, sebagian orang mengevaluasi:

  • apakah pesan itu masih dijalankan?

  • apa yang mulai diabaikan?

Ketika mereka memutuskan untuk setia atau kembali ke pesan itu,
sebenarnya mereka sedang menghormati leluhur dengan cara paling dalam:

bukan hanya menyebut nama,
tapi melanjutkan nilai yang dititipkan.

7. Hening Sejenak untuk Mengingat Mereka yang Telah Pergi

Bentuk penghormatan paling sederhana,
tapi sering paling kuat:
hening sejenak.

Di beberapa keluarga,
ada momen di mana semua diam beberapa detik atau menit:

  • sebelum makan bersama,

  • sebelum doa akhir tahun,

  • atau saat berkumpul memandang langit malam.

Di dalam hening itu,
setiap orang:

  • menyebut nama orang-orang yang telah pergi dalam hati,

  • mengirimkan doa pendek,

  • dan mengakui bahwa kerinduan terhadap mereka masih ada—dan itu tidak apa-apa.

Henning adalah altar tanpa bentuk,
tempat leluhur dan keturunan bertemu tanpa kata.

Penutup

Menghormati leluhur di akhir tahun bukan soal takhayul,
tapi soal ingatan dan rasa terima kasih.

Kita hidup di zaman di mana semuanya serba cepat dan mudah lupa.
Namun lewat ziarah kecil, selamatan sederhana, satu piring makanan, atau bahkan satu menit hening,
kita sedang berkata:

“Kami tidak hanya mengejar masa depan.
Kami juga ingat siapa yang telah menjaga jalan untuk kami sampai di sini.”

👉 Kalau kamu ingin menciptakan satu tradisi kecil versimu sendiri untuk menghormati leluhur di akhir tahun,
apa yang ingin kamu lakukan: menyalakan lilin, mendoakan dengan menyebut nama mereka, atau sekadar bercerita tentang mereka pada seseorang yang kamu sayang?